Islamophobia mempengaruhi semua golongan dan usia


Qur’an tentu hanya sebuah mimpi belaka. Namun katanya, upaya membuat kaum Muslimin takut belajar al-Qur’an itu adalah program terselubung sejak lama.

Yang lebih miris lagi, katanya, orang islam bisa takut terhadap agamanya sendiri. Mustafa mencontohkan, kini sudah banyak ibu-ibu yang mulai khawatir melepas anak-anaknya belajar ngaji ke mesjid, ke kursus bahasa arab, bahkan takut ikut kegiatan kerohanian Islam di sekolah. “Mengapa ini bisa terjadi, karena sasaran program Islamophobia tidak hanya ditunjukan kepada usia tertentu dan golongan tertentu. Namun kini sudah nyaris menimpa semua usia dan golongan,” ungkapnya. Intinya, terang mantan wartawan kriminal ini, semua usia dibuat supaya tidak mempercayai agamanya sendiri. Mau berjamaah di masjid, takut kena rekrutan Negara Islam Indonesia (NII) dan terorisme. Mau ikut diskusi Islam, takut terjerumus aliran sesat. Mau menjadi mahasiswa baru, takut dicuci otak. Mau berbaju muslim taat, takut dibilang teroris. Bahkan bagi pendakwah yang biasa khutbah di masjid, bahkan kini mulai khawatir karena banyak intel berkeliaran memantau mereka. Jika semula bebas menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an, kini mulai was-was karena takut dituduh penyebar kebencian. Takut dituduh Islam keras yang mengajari jamaah untuk berjihad, jadi serba salah kan , untuk ingin menyampaikan islam ini? Ujung-ujungnya, sampai juga kepada kekhawatiran yang disangkut-pautkan dengan isu pendirian Khilafah Islamiyah atau NII. Mustafa juga menilai barang bukti yang dilaporkan polisi dari hari ke hari mulai tampak janggal. Setiap penggerebekan terduga bom, selalu ditemukan buku jihad, VCD jihad, gambar Usamah bin ladin, atau bahkan kabel-kabel rangkaian elektronik, dan tabung. “kadang, di setiap rumah semua itu ada di gudang belakang. Juga, barang bukti banyak ditemukan dengan mudah setelah terduga terorisnya ditembak mati terlebih dahulu. Akurasinya sangat lemah,”ujar mustofa menjelaskan. Gaya pemberitaan media juga sudah mulai berubah. Menurut mustofa, ada yang berubah dari media televisi soal tayangan terorisme dan islam radikal. Sejak terjadi peristiwa 9 september di Amerika Serikat, utamanya televisi, mengalami perubahan signifikan. Sebagian stasiun TV terlihat memanfaatkan sumber-sumber tetap dan lebih banyak bertindak sebagai corong pemerintah ketimbang melihat kenyataan. “jujur saja, pada tayangan dialog selain dialog terorisme dan Islam radikal, biasanya narasumber yang berbeda pendapat akan dianggap menarik untuk dilihat,”tuturnya.
Namun, pada dialog terorisme dan Islam radikal, kata Mustofa, narasumber justru bersuara dalam irama yang sama. Entah itu disengaja pihak televisi atau tidak. Namun kenyataannya, hampir semua dialog terorisme dan Islam radikal, nyaris tak ada yang berbeda pendapat. “karena tontonan up to date yang paling mudah dijangkau hanyalah televisi, maka televisi layak saya sebut sebagai teknologi brain wash (cuci otak) paling berbahaya yang ada saat ini,”katanya.
Bagaimana tidak, jelas mustofa, berita terorisme, penggerebekan terorisme, dan semua terkait terorisme selalu disambut pendapat yang sama. Pandangan ilustrasi, isu, dan opini yang sama. Jika sudah begini, kata mustofa, masyarakat dipaksa percaya pada informasi dari polisi melalui TV.
“padahal polisi juga manusia yang bisa salah. Polisi juga manusia yang memiliki kepentingan. Polisi juga manusia yang memiliki keinginan-keinginan. Jadi kalau ada masyarakat yang meragukan kejujuran polisi, tolong jangan kaget,”tandasnya.
Pers itu Berpihak
Wartawan senior dan pakar kode etik pers, atmakusumah astraatmadja, tak sepakat jika serta merta disalahkan dalam masalah terorisme. Yang ia sesalkan, kenapa aksi-aksi terorisme selalu memakai kata Islam dan demi Islam dalam aksi-aksi teror mereka. “jadi, jangan semata-mata menyalahkan media pers, para pemimpin negara, dan masyarakat umum. Karena umumnya para pelaku teror itu sendiri yang membawa-bawa nama Islam,” Kata Atmakusumah kepada Suara Hidayatullah awal bulan lalu. Namun, kata Atma, pemakaian kata Islam yang identik dengan terorisme lebih banyak dilakukan oleh media internasional dibanding dengan media di Indonesia. Sayangnya, lanjut dia, tidak ada dari kelompok agama lain yang mengatasnamakan agama melakukan tindakan seperti yang dilakukan teroris tadi. Atmakusumah mengatakan tidak salah jika pers ikut mendukung gerakan Negara Islam Indonesia, termasuk juga mendukung gerakan Republik Maluku selatan, Organisasi Papua Merdeka, GAM, dan sebagainya. “Asalkan pers tersebut mempunyai alasan yang kuat, bahwa dengan mendukung ide yang diusung kelompok yang dibelanya adalah untuk kebaikan,”Kata mantan ketua Dewan Pers ini. Menurut Atma, segala pendapat harus selalu boleh dikumandangkan. Selama tidak melakukan kekerasan, semua bentuk ekspresi harus diungkapkan.”jadi, itu tidak hanya kesalahan pers. Karena pers itu berpihak,” Kata Atma menjelaskan. Atma mengingatkan, bahwa objektif itu tidak harus netral. Tapi berimbang. Semua alam pikiran bisa diungkapkan di media pers. Itu yang ideal dan edukatif. Sehingga bisa mengetahui pandangan pikiran mana yang ideal menurut mereka. Tidak diskriminatif dan berprasangka. “Dalam negara demokrasi, media harus mungkin dan harus boleh membela kelompok dan harus boleh membela kelompok mana saja yang menurut dia paling benar. Biarkan publik, pembaca dan audiens yang menilai dan menghakimi,”katanya. Dan harus diingatkan juga sekarang ini sedang terjadi ghazwul fikr (perang pemikiran), jadi jangan terlalu percaya kepada satu sumber yang belum banyak terbukti kebenarannya, dan jangan percaya kepada suatu ideologi yang dipilih karena kebanyakan orang memilih ideologi tersebut, tapi pilihlah ideologi yang menurut anda benar dan terbukti kebenarannya baik didalam kitab suci ataupun dari sumber lainnya yang dapat dipercaya, itu pesan dari saya.
SEKIAN TERIMAKASIH

Posted in islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: