Cerdas Duniawi saja, tak cukup


Sejak tahun 1905, Alfred Binet memperkenalkan definisi kecerdasan kepada dunia. Menurut ilmuwan berkebangsaan perancis ini, orang yang cerdas adalah orang yang memiliki IQ (intelegence qoutient) di atas rata-rata, yakni di atas angka 100 menurut ukuran yang dibuatnya. Sedangkan orang yang memiliki IQ di atas 150 disebut jenius.
Mulai saat itu, keberuntungan manusia seolah-olah ditentukan oleh seberapa tingginya IQ-nya. Semakin tinggi, kemungkinan untuk berprestasi semakin besar.
Akibat anggapan tersebut, sekolah-sekolah elit hingga sekarang hanya menerima calon siswa yang memiliki IQ tinggi. Demikian juga dengan sejumlah perguruan tinggi dan perusahaan-perusahaan besar, hanya menerima orang-orang yang bisa menuinjukkan hasil tes IQ tinggi.
Namun teori tersebut hanya bertahan hingga 90 tahun, lalau mulai rontok setelah Daniel Goleman melakukan serengkaian riset yang mendalam dan berlangsung lama. Pakar psikologi ini mensemukan bahwa IQ bukan satu-satunya jenis kecerdasan yang menentukan sukses tidaknya seseorang. Ada kecerdasan lain yang justru lebih penting dari itu, yaitu emotial quotient (kecerdasan emosi).
Sejak itu orang mulai menyadari bahwa IQ semata tidaklah cukup. Kecerdasan intelektual tidak banyak membantu seseorang mengarungi kehidupan jika tidak dibarengi kecerdasan emosi. Bahkan, faktor kecerdasan emosi menyumbang sekitar 85 persen variabel keberhasilan.
Terlalu banyak contoh yang memperkuat pendapat Goleman. Betapa banyak anak-anak yang selalu mendapat peringkat tinggi dengan nilai akademik luar biasa pada usia sekolah, akan tetapi setelah lulus gagal mengarungi kehidupan yang sebenarnya.
Para guru dan pengurus sekolah boleh saja bangga ketika para muridnya mendapat rata-rata 8 saat ujian nasional. Tapi, mereka akan jauh lebih bangga jika proses mendapatkan tersebut dilakukan secara sportif, tidak menyontek, dan tidak mendapatkan bocoran jawaban dari oknum tertentu. Apalah artinya jika nilai rata-rata 10 jika dihasilkan dari cara-cara yang tidak jujur.
Nasehat Lukman al-Hakim
seiring ditemukannya teori multiple intelligence (kecerdasan majemuk) oleh Howard Garner, psikolog dari Harvard University, definisi kecerdasan kian meluas. Teori mutakhir ini menggabungkan delapan dimensi kecerdasan, yaitu lingiustik, matematis logis, spasial, kinstetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, natural.
Sejak teori itu muncul, tidak ada lagi monopoli kecerdasan. Banyak stigma lama yang akhirnya berubah. Motto-motto baru yang lebih manusiawi mulai bermunculan. Misalnya, “semua anak itu cerdas pada dasarnya”,” tidak ada anak yang bodoh, yang ada guru yang tidak bisa mengajar”,” semua anak yang terlahir adalah sang juara.”
Sesungguhnya, jauh sebelum Binet, Goleman, dan Gardner, menemukan teori kecerdasan, mulai dari IQ, EQ, SQ, hingga multiple intelligence, para tokoh muslim telah mendefinisikan kecerdasan secara lebih lengkap, komprehensif, dan holistik. Sayang, kita malah berkiblat kepada teori kecerdasan yang dikembangkan dunia Barat. Entah karena kita malas mencari mutiara tersebut dalam deretan rak perpustakaan lama yang melimpah, atau karena kita merasa minder. Bahkan, malah lebih jauh lagi kebelakang, al-Qur’an dan Sunnah telah mengenalkan kepada kita nilai kecerdasan yang sejati, yakni kecerdasan berdasarkan fitrah. Al-Qur’an telah memuat profil tokoh pendidik yang luar biasa. Ia bukanlah seseorang nabi dan rasul, tapi namanya diabadikan menjadi sebuah nama surat dalam al-Qur’an, bahkan petuahnya dinukil di dalam al-Qur’an. Ia adalah Luqman al-Hakim. Ia berkata kepada anaknya tentang kecerdasan, sebagaimana dinukil dari buku yang berjudul pesan-pesan bijal Luqman al-Hakim karya majdi Asy Syahari. Beginilah katanya:
“Wahai anakku, orang yang cerdas, pandai, dan bahagia pasti mencintai sesamanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia bersikap hemat dalam keadaan kaya dan menjaga kehormatan diri disaat fakir. Harta tidak akan melalaikannya dari Allah. Kemiskinan juga tidak mungkin menyibukkannya dari mengingat Allah.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu akan bisa mengambil manfaat dari kesabarannya. Ia selalu mendengarkan siapa saja yang menasehatinya. Ia tidak memusuhi orang yang lebih tinggi derajatnya dan tidak pula melecehkan orang yang lebih rendah derajatnya.”
“Ia tidak menuntut apa yang bukan miliknya dan tidak menyia-nyiakan apa yang ia miliki. Ia tidak mengucapkan apa yang tidak diketahuinya dan tidak menyembunyikan ilmu yang ada padanya.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu merasa puas dengan hak yang dimiliknya dan tidak pernah merugikan hak-hak orang lai. Orang lain tidak merasa terusik olehnya dan diapun tidak merasa terbebani oleh orang lain.”
“Wahai anakku, orang yang cerdas itu mau menerima nasehat dari orang yang menasehatinya. Ia bergegas dalam hal kebajikan dan lamban dalam hal keburukan. Ia kuat dalam berbuat baik dan lemah dalam kemaksiatan. Ia memiliki sedikit pengetahuan tentang nafsu syahwat.”
“Ia mengetahui cara mendekatkan diri kepada Allah. Ia meyakinkan pada saat bersaksi, bersikap adil disaat memutuskan, benar jika berkata, jujur jika diberi kepercayaan, dan pemaaf jika dizalimi.”
“Wahai anakku, orang cerdas itu tetap berbuat baik di saat orang berbuat jahat kepadanya. Ia menggunakan hartanya untuk kebaikan dan tidak menafkahkan harta yang bukan miliknya.”
“Di dunia, ia ibarat perantau. Tujuannya adalah kehidupan kelak. Ia selalu mengajak pada kebaikan dan mengajarkannya. Ia mencegah kejahatan dan menjauhinya. Batinnya sesuai dengan lahirnya. Ucapannya selaras dengan perbuatannya.”
Nasehat Luqman al-Hakim kepada anaknya tentang kecerdasan itu bisa diringkas menjadi sebuah definisi tentang orang yang cerdas, yakni orang yang memiliki sifat kasih sayang , efisien, efektif(berdaya guna/bermanfaat), menjaga kehormatan, konsisten, sabar, empati (peduli), jujur, apresiatif, berilmu pengetahuan, berketerampilan, adil, benar, komitmen, proaktif, tangguh, amanah, visioner, dan menjadi pelopor kebaikan.
Sekarang coba bandingkan nilai kecerdasan yang dikemukakan oleh Luqman al-Hakim dengan teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Luqman al-Hakim dengan teori kecerdasan yang dikemukakan para tokoh sekuler di atas. Satu hal yang pasti, teori sekuler tak pernah menyentuh dimensi transendental (ukhrawi), kalaupun ada, nilainya sangat dangkal dan rasional.
Dalam kaitan ini, maka definisi kecerdasan yang dikemukakan oleh rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam merupakan definisi yang paling akurat, paling benar, dan paling komprehensif.
Dalam sebuah Hadis beliau bersabda tentang kecerdasan, “orang yang cerdas adalah orang yang menguasai dirinya dan berbuat untuk keselamatan sesudah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang mempertuturkan hawa nafsunya dan mengharapkan kepada Allah harapan-harapan kosong,” (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Umar).
Al-Ghazali mengelaborasi lebih lanjut konsep kecerdasan ini. Ia berkata, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu memahami tuhannya, memahami dirinya, memahami dunianya, dan memahami akhiratnya.”
Orang yang bisa memiliki empat kemampuan tersebut dijamin sukses dan bahagia di dunia dan akhiratnya.

Posted in islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: