I’tikaf

sebelumnya saya posting ini hanya untuk mengingatkan kalau 10 malam terakhir bulan ramadhan tinggal sebentar lagi, silakan baca artikel di bawah ini.
I’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk mengisi hari-hari terakhir di bulan suci tersebut, beliau memilih beri’tikaf di masjid. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Nabi selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau…” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Agar i’tikaf yang dilakukan berbuah terampuninya dosa-dosa yang telah dilakukan, seorang Muslim hendaknya menjaga dan memperhatikan adab-adabnya.
Berikut ini adalah adab i’tikaf, antara lain:
Pertama, niat yang benar. I’tikaf dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala dan menghidupkan Sunnah Rasulullah.
Kedua, dilaksanakan di masjid. Ini didasarkan pada firman Allah, “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid.” (Al-Baqarah [2]:187)
Ketiga, memutus atau menghentikan sementara waktu kegiatan yang berhubungan dengan keduniaan. Hal ini dilakukan agar selama i’tikaf bisa berkonsentrasi hanya untuk beribadah.
Keempat, tidak keluar dari masjid kecuali hanya untuk memenuhi hajat yang mesti dilaksanakan. Aisyah berkata, “Sungguh Nabi Shallallahu’alaihi wasalam pernah menjulurkan kepala beliau kepadaku ketika sedang berada di masjid lalu aku menyisir rambut beliau. Dan beliau tidaklah masuk ke rumah kecuali ketika ada keperluan (buang hajat), apabila beliau sedang beri’tikaf”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang sedang i’tikaf diperbolehkan mendirikan tenda(kemah) kecil pada bagian belakang masjid sebagai tempat beri’tikaf. Aisyah pernah membuat kemah yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang, apabila beliau beri’tikaf dan hal ini atas perintah Nabi. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang sedang beri’tikaf juga boleh meletakkan kasur ranjangnya di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi jika i’tikaf dihamparkan kasur untuk beliau atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At-Taubah. (Riwayat Ibnu Majah)
Kelima, tetap menjaga amaliah ibadah pagi dan sore, seperti zikir pagi dan sore, shalat Dhuha, shalat Rawatib, shalat Lail, shalat Sunnah wudhu, zikir setelah shalat, dan juga menjawab adzan.
Keenam, sungguh-sungguh untuk dapat bangun sebelum waktu shalat dengan waktu yang cukup untuk persiapan, sehingga dapat melaksanakan shalat lima waktu dengan khusyu’ dan tenang.
Ketujuh, memperbanyak amalan Sunnah dengan melakukan berbagai macam ibadah seperti membaca al-Qur’an, membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, istighfar, serta membaca shalawat kepada Rasulullah. Juga mentadaburi al-Qur’an, membaca terjemahannya, membaca Hadits-hadits Nabi dan membaca sirahnya.
Kedelapan, sedikit makan, minum, dan tidur dengan tujuan untuk melembutkan hati dan melatih kekhusyukan hati, serta tidak membuang waktu sia-sia.
Kesembilan, selalu menjaga kebersihan dan kesucian diri dan tempat i’tikaf dengan selalu menjaga wudhu. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Demikian beberapa adab dalam i’tikaf. Semoga bemanfaat, barangsiapa yang tertarik untuk mencoba i’tikaf silakan ikuti langkah-langkahnya, terimakasih!

Posted in islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: